Banyak cara untuk mencintai negeri ini

Standar

download (4)” Banyak cara untuk mencintai negeri ini ” hehe kata – kata di film Habibie & Ainun. Negeri ini terlalu indah untuk di sia – siakan. Sinar matahari, angin, langit, pantai, gunung, semuanya cantik dan bikin speechless. Sedihnya kita bangsanya sendiri belum mampu mengenal negeri ini seutuhnya. Mungkin satelit – satelit milik negara maju, jauh lebih mengenal negeri kita.

Selama ini kita selalu bilang bahwa dia begitu bangga dengan Indonesia. Tapi itu biasa. Kapan yah, Indonesia bangga sama  kita ? hehe. Semoga, Amin. Tapi buktinya banyak orang besar kebanggaan Indonesia yang lebih memilih meninggalkan negerinya dan menggabdi untuk negeri yang lain. Karena kezaliman yang ada didalamnya, nauzubila.

Setiap orang punya pilihan. Dan setiap orang punya hak untuk melakukan ataupun meninggalkan hal – hal yang dianggap tidak sesuai dengan nuraninya. Terkadang kebenaran harus mencari jalannya sendiri, agar tetap menjadi hal yang benar. Karena kebaikan dan kejahatan sudah tak nampak batasnya.

Cinta atau Obsesi?

Standar

ImageDua hal yang sulit dimengerti bila kita tidak hati – hati. Cinta itu indah, tapi kadang para pelaku yang mengaku sedang bercinta, meninggalkan kesan menyakitkan. Kalau obsesi, mengaku cinta tapi ketulusannya dipertanyakan. Cinta kan ngalir gitu aja. Hanya kebahagiaan yang diharapkan. Ada ataupun tidaknya balasan. Cinta yang mendekati obsesi cenderung nafsu dan rasa kagum yang berlebihan.

sumber gambar : 

http://www.google.com/search?hl=id&site=imghp&tbm=isch&source=hp&q=love&btnG=Telusuri+pakai+gambar&biw=1366&bih=640&sei=LYcAUvbNNY2Hrgfz4oCACw#facrc=_&imgdii=VdnUO5DeXgROOM%3A%3BepqTigHPkrd7aM%3BVdnUO5DeXgROOM%3A&imgrc=VdnUO5DeXgROOM%3A%3BCXKc_HmTpgZLGM%3Bhttp%253A%252F%252Fdesignlap.com%252Fwp-content%252Fuploads%252F2012%252F12%252Fheavenly_love-2560×1600.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fdesignlap.com%252Flove-pictures%252F%3B2560%3B1600

Mungkin aku belum lulus

Standar

“Hal yang terjadi berulang – ulang, akan menjadi hampa rasanya” Aku ngutip dari mana yah? lupa hehe -_-?Lagi – lagi aku jatoh, dengan kejadian dan hal yang sama. Kecewa sih, tapi kadarnya berkurang. Karena mungkin pernah ku alami sebelumnya. Bahkan lebih dasyat dari yag ini.

Tapi, selalu ada hikmah dan hal yang lebih baik yang aku temui setelah itu. Subhanalloh. Terima kasih Alloh mungkin dengan jalan ini, cara engkau menghidupkan kembali mimpi – mimpi yang sempat tertunda. Meskipun gaib terwujudnya. Namun aku percaya, tak ada kebetulan, tak ada yang sia sia, fightiiiing!!!!

Pelangi di Hujan Deras

Standar

 

Tentang warna dan logika yang terpendam. Tentang asa dan bunga – bunga yang mekar. Kenapa aku harus kembali ke dimensi itu. Masa membisu yang tak pernah membuatku bicara. Memang tampak bodoh diriku. Mana mungkin pelangi mau menampakkan dirinya kala hujan? Cantiknya pelangi, datang bersama mentari kawan.

Aku rindu suara gitar yang pernah bermusuhan dengan kelingking. Andai Sang pemilik gitar tahu,aku ingin bernyanyi diiringinya saat itu. Penolakanku itu  sesungguhnya hanya rasa takut yang memalukan.

Di atas batu itu, dia melantunkan syair –syair sederhana. Bersama ombak menghadap sun set. Dari sini sosoknya hanya tampak siluet.

Imajiku kembali ke masa itu. Masa dimana aku pernah duduk bersamanya.

“ Dawan,  kau tau mengapa hujan selalu turun di pulau ini, meskipun hanya sebentar, tapi tak pernah ada hari yang terlewatkan ?”

Dawan tak menjawab pertanyaanku, dia hanya diam dan menatap langit yang terik.

“ Umm, kau lihat matahari begitu terik, hingga mudah sekali air laut menguap. Lalu angin menghembuskan awan yang berisi uap air, syiuhhhhhh.” Tangan Dawan bergerak diatas kepalaku.

“ Dan turun hujan.” Dawan tersenyum menatapkku yang nampak serius mengikuti penjelasan dan gerak tubuhnya

“ Dari mana kau tahu proses turunnya hujan ?”

“ Makanya, kau dengarkan gurumu bicara.” Dawan sentil keningku.

“Aw, kau ini, sakit.”

Dia hanya tersenyum lalu benyanyi dengan gitar sederhananya.

Aku pun tersenyum. Bersama Dawan disampingnya. Dawan, kapan ombak akan membawamu kembali?

“ Hoy Lis, bengong aja.” Dena mengagetkanku.

“ Kenapa ? pantainya cantik dan romantiskan, cieee.”

“ Apaan sih, “ Jawabku dingin lalu menambah speed berjalan.

“ Woy lis, tungguin. gitu aja ngambek.career aku berat nih.”

“  Udah, Lisa lagi sensi kali, mungkin lagi dapet, di kapal juga diem mulu.” Tambah Herlin sambil jalan beriringan dengan Dena.

Pulau ini masih sama, susur pantainya, suara gemuruh ombaknya. Dan rasa bersama Dawan. Semuanya masih sama.

Kembali ke tempat ini bukan aku yang mau, bahkan tak pernah terfikirkan. Ayahku seorang Polisi Hutan yang pernah mengabdikan dirinya di Taman nasional pulau ini. Semenjak kejadian itu, ayah dipindah tugaskan. Aku bersama Ibu dan Kakak pun ikut berpindah. Hingga Ayah memutuskan keluarganya untuk menetap di suatu kota. Sementara dirinya tetap mengabdikan diri untuk menjaga hutan – hutan Indonesia.

Kini aku mahasiswa jurusan biologi yang sedang melaksanakan penelitian. Tidak ku sangka, aku kembali berjodoh dengan pulau ini.

Perjalanan penelitianku di pulau ini mengulas kisah masa kecilku yang ku habiskan bersama Dawan.

Flash back yang mengungkap moment – moment masa kecil  di tempat – tempat indah pulau. Cerita, suasana, budaya, kearifan lokal, dan sumber daya yang menampakan kekayaannya. Selain itu juga mengkisahkan persahabatan dan cinta masa kecil.

Dan tentang Dawan, yang mengisi cerita Lisa. Petualangan mereka di pulau dan di dalam taman nasional yang memunculkan ide nakal. Rasa ingin tau yang menjadi boomerang membahayakan. Yang akhirnya menyebabkan kisah persahabatan mereka putus dan cerita dipulau usai.

 

Mengapa persahabatannya putus? Apa yang terjadi pada Dawan dan Lisa? Apa ide nakal mereka? Sekarang Dawan dimana? Seperti apa budaya, kearifan lokal, dan sumberdaya pulau tersebut? Semua diungkapkan dalam hari – hari penelitian yang dibayang – banyangi oleh kisah masa kecil Lisa dan Dawan.

-resensi novel Mutsar, 4 Agustus 2013 –