Seharusnya Sama

Standar

Saat itu malam telah larut. Aku sangat lelah. Kepalaku terasa berat, dan suhu tubuhku meningkat. Aku benar – benar ingin terlelap di kasurku yang empuk. Rasanya ingin ku marah, tapi aku hanya bisa diam. Kenapa begitu banyak halangan hanya untuk menemui rumah. Tapi dengan sekejap semua nafsu-ku itu hilang. Saat melihat seorang anak tertidur di bawah meja tanpa selimut. Dia hanya menghangatkan dirinya dengan memeluk diri sendiri. Tak bisa merentangkan seluruh tubuh yang pegal. Dia hanya menyembuhkan lelah dan berlindung dari hujan. Dan aku hanya bisa berdoa tidurnya lebih nyaman dibanding tidurku. 

Dimalam yang berbeda, di angkutan umum sepulang kuliah. Dua orang anak kecil duduk tepat di pintu angkot. Mereka bersender dan seorang diantanya memejamkan mata. Mereka anak kecil, meskipun pakaian mereka kotor, mereka hidup di jalanan, baju mereka robek, wajah mereka kucel, mereka tetap anak – anak. Aku sangat membenci keadaan seperti ini. Karena aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku tidak peduli dengan status sosial, hubungan darah, persaudaraan, mereka anak – anak, mereka manusia. Yang butuh perlindungan dari orang yang lebih dewasa. Tapi apa, seolah diri mereka berbeda dengan anak – anak kebanyakan yang dilindungi oleh sanak saudara dan orang yang lebih dewasa. Lagi – lagi aku cuma bisa berdoa. 

Aku memang bukan orang baik. Tapi fitrahku yang selalu menyerukan untuk melakukan hal – hal yang baik. Allah, hanya bisa menyaksikan, berdoa, menulis, dan mungkin membantu dengan recehan. Aku tidak tahu harus menulis apa lagi. 

Fahiya Azmi

Standar

Dia seorang anak Lebanon korban perang. Di depan mata Ibu, Hiya, dan kakak Hiya Ayahnya di tembak tepat di jantung. Dan meninggal seketika dipelukan sang kaka. Perang sering kali memaksa keluarga Hiya untuk pindah seketika. Dan hal itu juga yang membuat Hiya terpisah dari Ibu dan Kakaknya. Beberapa minggu kemudian jasad Ibunya ditemukan tewas mengenaskan. Tak ada luka bakar, tapi seluruh tubuhnya menghitam hanya tinggal belulang. Senjata zat kimialah penyebabnya. Hiya mendewasa didalam kesepiaannya, bersama seorang dokter yang bersedia mengangkatnya menjadi putra. Dia menyebutnya Saadah. Entahlah, dia bilang dia sudah terbiasa menyebut orang yang lebih tua hanya dengan nama saja. 

Dia tenggelam didalam kesepian. Sering kali terlelap dengan keringat dan kegelisahan. Hanya Al – Quran yang dipeluknya, yang didalamnya terdapat foto keluarga kecil Hiya. Suara indahnya saat azan, dan Surat Yusuf yang selalu dilafalkannya saat menjadi imam di shalat magrib. Dia bilang Surat itu adalah Surat yang khusus bercerita tentang cinta. Seluruh isinya membahas tentang cinta. 

Ini tokoh novel yang aku baca saat liburan. Novel yang indah, romantis, sangat islami, dan mampu menjadikan kita berperan didalamnya. Seakan sosok laki – laki itu nyata, dan ingin aku temui, tapi sayang sosoknya hanya membawa kebahagiaan dalam khayalan saja. hehe