ketika bertanya pohon ficus

Standar

Memasuki gedung itu untuk petama kalinya. Nampak tak seburuk cerita. Hmm tak ingin tau kah? Dalam bayangku hanya ada kata – kata yang menunggu. Dalam bayangku hanya ada sendu ingin yang tak menyatu. Aku berdoa di sela – sela adzan dsn iqamah dan dalam sesak dadaku. Datang mata yang tak nampak mulut dan rambutnya. Apakah aku gaib? Mengapa mata pun tak menyapaku. Akhirnya ku menungg dan kuambilkan murbei dan buah makanan ular itu. Aku ingat saat lambaian setelah mata melihat bulan yang tersenyum. Dan ekspresi rasa masam. Aku melihat dari seberang danau sejak senja hingga malam. Tak apa aku akan belajar bersama dan percaya. Aku akan belajar mengabaikan untuk menunggu hal yang sama. Tidakkah tampak di langit nampak bahagia. Akankah esok lusa? Hmm diamku adalah tak percaya jika saat itu telah ada. Dan meskipun tak tampak di balik masker, lihatlah mataku

asa

Standar

Ini tentang biasa, tidakkah bertanya apa kemarin sekarang baik saja. Apa ini telanan kata – kata tanpa ekspresi. Hmm layaknya menanti sebuah misteri. Datang dan ku berikan semangat dan ku bertanya apa dunia dalam jalanmu baik saja. Masih berada di dalam gua untuk mencerna. Sesempit jalannya, pikiran yang begitu bercabang. Banyak bayangan – bayangan baik tapi tidak sedikit juga prasangka – prasangka buruk. Maaf mengertilah bahwa iti hanya bagian dari lama tak jumpa, lama tak bercerita. Menggertilah bahwa itu hanya bagian dari takut jika waktu tak kembali. Kuatlah sebagaimana telah dikuatkan, yakinlah sebagaimana telah diyakinkan, kembalilah seutuhnya sebagaimana keabadian dalam penantian.

Copy – paste

Standar

Inilah adalah kata- kata inspirasi dari senior ku yang telah menikah, salah satu pembimbing kami di forgift. Semoga menjadi keluarga sakinah , mawadah, warahmah 🙂

“Inilah badai yang menerbangkan aneka rasa didadanya, mengaduk-ngaduknya menampar-nampar penuh impresi, dan menggelagakkan ruh yang tiba-tiba tersenyum-senyum. Tapi juga membara-bara. Ada semangat, ada kebanggaan, ada keindahan, ada cita, ada cinta. Dan tiba-tiba bertambah lagi satu kata; Tanggung Jawab !”
(SAF: Bahagianya Merayakan Cinta)