Menunggu

Standar

-Potongan novel “cinta dibawah cintaku padaMu”

“Segala yang gaib itu milik Allah,maka tunggulah! Aku pun termasuk orang – orang yang menunggu bersama kamu. Jangan menyerah dari rahmat Allah Nira. Keindahan sabar lagi yakin akan diantarkannya pada kesudahan yang baik. Segala hal teramat mudah bagi Allah.”

“InsyaAllah Mar.”

PETA IMPIAN

Standar

aku bermimpi dibawakan  impian. Disuruhnya aku menjadikan peta untuk sampai ke tujuan. Bukit, tebing,jurang, dan berbagai macam kontur medan. Keberanian untuk mencoba tidak cukup. Karena bisa mati di tengah jalan. Peta telah digenggam ,hanya persiapan dan strategi yang matang. Jangan pernah takut jika tersandung lalu terjatuh, atau dicaci sampai dilempari. Tak apa tak perlu menjelaskan hal yang ditertawakan. Jadikan cambuk untuk sampai dengan segera.Meski akan terluka, meski akan sakit, meski terasa ringkih, tapi justru dari hal hal itulah orang besar lahir.

Sun

Standar

Matahari memiliki api, tapi ia sinari dengan cahaya…
Kehormatan insan tak terletak pada apa yang dimiliki, namun pada sumbangsihnya…

-Salim.A.Fillah-

inikah sambutan untukku?

Standar

setiap kaki melangkah dan mendiami tempat baru. Aku selalu meninggalkan rutinitas, terbiasa, bahkan aku mengabaikan mereka yang mungkin ingin tahu kabarku. Tidak, bukan aku tidak merindukan mereka,aku hanya ingin ruh dan ragaku sepenuhnya ada disini. Di Desa ini. Menikmati karya Tuhan tanpa ada sudut yang terlewatkan. Setiap komponan abiotik kurasakan dengan rasa syukur. Dan respon tubuhku seakan merasakan keramahannya.  Desa Karangwangi, sebuah desa di selatan pulau jawa dengan jalanan aspal yang rusak. Hari pertama tiba di langit berlatar jingga bersinar. Jalan – jalan sore seusai merasakan dinginnya air,angin membawaku sebuah padang rumput lalu memanggilku tanpa nama untuk selfie bersama anak – anak di desa. Bahagia. Allah, inikah sambutan untukku?

Cinta yang Kau taburkan untukku

Standar

Panas terik yang ku lawan dengan es yang sangat dingin. Alhasil perutku tak bisa menerima apapun bahkan air putih. Obat, makanan, semuanya di tolak mentah – mentah. Aku tidak merasa ada yang aneh hanya perutku mengapa begitu manja? Lama – lama aku bisa lemas. Sebuah pengalaman yang berharga saat mengalami “shock” akibat suhu. Dan apa yang tampak?? aku memang terlambat mengambil data. Tapi aku merasakan kasih sayang yang begitu banyak dari alam, langit, tumbuh – tumbuhan, sahabat, dosen, dan banyak lagi. Tak tahu didirinya aku,aku terkadang merindukkan untuk mrepotkan mereka . Terimakasih Allah telah menaburkan cinta yang sangat besar melalui mereka

Bulan Sabit Tersenyum

Standar

potongan paragraf dalam buku jatuh cinta kepada sahabat

Malam itu langit amat cerah berhiaskan bulan yang tersenyum. Tapi kau mengatakan sebaliknya jika bulan sedang cemberut. Bukankah otak dan matamu yang terbalik? Tak ada yang salah ketika kenyamanan mengantarkan rasa untuk ingin memiliki. Kesibukkan dan ruang berbeda menimbulkan ketakutan yang sebenarnya  tak pernah terbukti. Malam kini selalu datang menyambut sepi. Siapa yang pergi? Aku dari kau, atau kau dariku? Setidaknya alam tetap ramah padaku. Mereka para pohon yang setiap hari ku sensus namanya. Dan mereka para serangga malam yang senang berkumpul di cahaya lampu. Aku sudah lupa cara menyapa. Bahkan aku lupa cara berbicara. Mengapa mereka selalu bilang aku berbeda? Apa aku bermutasi? Atau telah mengalami evolusi? Setiap hari hanya timbul pertanyaan – pertanyaan tanpa ungkapan jawaban.

Dia menyuruhku membaca luka dimatanya. Padahal, ketidakmampuanku melihatnya karena berusaha melupakan rasa sakit yang terstimulus saat dia ada. Kau tahu, katanya seseorang yang tidak bisa bertepuk tangan atas kebahagiaan orang lain, hatinya bagai di neraka. Saat neraka bersemayam di dalam dada dan pikiranmu, betapa kerasnya kau harus berjuang mengusir aura – aura negatif yang pelan – pelan meracunimu, yang bisa kapan saja membunuhmu.