Surat untuk Calon Ibu Mertua

Standar

Sore .. Sore…Baper positivan yukkk…

Teruntuk Mama Calon Mertua yang telah Allah persiapkan, semoga panjang umur dan sehat selalu

-mutsar-

Mah… bila tiba saatnya, Izinkan aku untuk menjadi bagian dari keluargamu.

Aku bukanlah wanita berkatarbelakang terhormat, bukan pula wanita pintar dan cantik jelita.

Aku hanyalah wanita dari keluarga sederhana yang bercita – cita menjadi istri salehah, membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, dan mencetak generasi penolong agamaNya.

Mohon doa restumu Ma…, aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisimu, meski suamiku berhak atasku, namun hanya mama yang berhak atas suamiku.

Setiap laki laki menginginkan istri seperti ibunya, seperti mama yang pintar segalanya. Ridhai dan izinkan aku untuk terus belajar merawat suamiku dengan baik, sebagaimana mama yang telah merawatnya selama ini.

Doakan aku menjadi istri yang selalu diridhai oleh suami, hingga surga terasa dekat saat aku bersamanya.

Cerita Rasa (Asin Manis dkk)

Standar

Apa yang terpikir dibenak ketika bicara tentang rasa? asin? manis? pahit? pedas? asam? atau rasa yang lain? Senang, sedih, complicated, bahagia, terharu, cinta, ceria, apapun itu…Bagaimana bisa terjadi? Pasti  terbesit sistem syaraf, neurotrasmitter, rangsang, respon. Lalu apakah rasa dapat  dikendalikan? misalnya saat kita makan garam, kita berusaha mengendalikan sistem  syaraf sehingga persepsi di otak menyatakan rasa garam adalah manis. Tentu tidak bisa, karena sistem indera perasa telah diatur sehingga otak manusia menghasilkan persepsi yang sama, meski dengan tingkat sensitivitas yang berbeda. Lalu bagaimana dengan rasa sedih, bahagia, dan kawan – kawannya? Apakah dapat dikendalikan? Karena persepsi setiap orang terhadap rangsang memunculkan rasa yang berbeda. Sama seperti ketika menonton drama korea, ada orang yang sedih hingga menangis, ada yang sedih tanpa menangis, ada yang bahkan tidak merasakan apapun. Sungguh luar biasa, Masya Allah, bagaimana manusia mampu untuk menghasilkan persepsi yang berbeda terhadap suatu rangsang.

Jadi untuk rasa sedih dan senang, kita diperbolehkan untuk memilih? Saat melihat masalah, saat mendengar masalah.saat meraba masalah, kita dapat mengatur otak agar sesuai dengan apa yang ingin kita persepsikan. So What? Saya juga bingung sebenarnya, intinya adalah kita dapat merubah rasa cie..keep positive!! naon -_- agak gimana gitu tulisan sore ini..but write write write