Mereka Hafizh Quran Loh?

Standar

“Mereka Hafizh Quran Loh? Jadi siapa yang seharusnya didoaakan, kita yang mendoakan mereka? Atau kita yang meminta doa pada mereka???”Merenung..,Hafalan quran aku sampai mana yaa? -_-‘ Itulah yang disampaikan oleh salah seorang relawan Indonesia di Palestina. Lantas pernyataan juga datang dari imigran Palestina, “Alhamdulillah, kami bahagia diamanahi Allah menjaga tempat suci ummat moeslim, Al- Aqsa, tempat itu bukan tempat suci kami, rakyat Palestin, tapi juga kita, warga yang mengaku muslim.” Tersentak! T-T  Apa kontribusiku???

Pengalaman berhikmah saat mengikuti salah satu kajian

Berhenti Menulis Tentang Cinta

Standar

Aku pernah menjadi kontributor penulis di beberapa buku antologi. Namun sebenernya aku tidak memiliki buku – buku yang didalamnya terdapat tulisanku itu. Jujur aku MALU. Aku malu menulis cerita tanpa hikmah. Motivasiku sebenarnya hanya menguji, apakah tulisanku layak untuk dibaca? layak untuk terbit? Hingga suatu saat aku memiliki buku yang berarti, bermanfaat. Aku terpaksa menulis tentang cinta menye – menye karena begitu diminati remaja. Itulah kenapa aku enggan memilikinya, dan menyelipkannya di lemari buku. Mianhae, meskipun pasar remaja menyukainya, aku enggan berkontribusi merusak moral secara halus, tidak langsung, bahkan banyak yang tidak menyadari. Dan aku juga enggan bila keluarga maupun keturunanku membacanya. Yups…berhenti menulis tentang cinta! Cinta yang dangkal, cinta yang bercanda seperti dunia, hanya dunia, senda gurau belaka!

Why were they interested to be muslims?

Standar

Why were they interested to be muslims? Suatu ketika aku datang ke majelis ta’lim di suatu komunitas muslimah. Aku berniat menimba ilmu agama secara rutin, learning to be better muslim. Singkat cerita ada moment dimana masing – masing muslimah konsultasi dengan pemateri satu persatu. Tidak  ada yang ingin aku tanyakan saat itu, lantas aku disuruhnya membaca sahadat. Otakku bingung, bukankah kita selalu membaca sahadat saat shalat? Dari zaman TPA umur 3 tahun ampe sekarang. Lalu kenapa saat itu aku harus kembali membaca sahadata? Aku yakin bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, dan aku yakin bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Tanpa banyak bertanya, aku tinggalkan ruangan dan melanjutkan acara.

Beberapa kali aku mengiikuti kajian, akhirnya aku menemukan jawabannya. Aku men-judge diriku adalah muslim, tapi apakah selama ini aku menjalankan hidup sebagai muslim?? Bagaimana jika nanti aku tidak bisa menjawab pertanyaan siapa Tuhanku? dan Siapa Rasulku? Bagaimana jika Rasulullah enggan aku ikuti karena aku tidak pernah belajar menjadi muslim?

Lalu aku belajar sedikit demi sedikit, tentang sistem hidup yang seharusnya aku jalankan. Dan…yup luar biasa, aku takjub dengan kepengaturan Allah terhadap manusia. Semua demi kebaikan manusia, demi kita, demi aku, kamu, kita, cieee… wkkwk #skipbaper tapi muncul kemudian rasa takut, takut jika diri ini tidak mampu menjalankan. Nanti bagaimana jika aku ditanya “Mengapa kamu tidak menjalankan apa yang telah kamu ketahui?” Dan karena takut aku belajar untuk menjalankan itu,kemudian ternyata aku tidak sampai disini. Aku tidak bisa sendirian menjalankan. Aku tidak bisa egois…

Bagaimana jika aku ditanya “Jika kamu tahu itu benar, mengapa kamu diam sajamelihan kesalahan, mengapa kamu egois?” Dan tugas menjadi bertambah untuk mengajak, untuk memberitahu, untuk berjalan bersama. Mungkin itulah kenapa islam disebut jalan keselamatan. Saat rahmat Allah  untuk mengenal islam, menjadi muslim, menjadi nikmat bagi kita. Dulu aku sering memotivasi diriku be the real agent of change, be the real biologist, be the real student. but aku lambat untuk memotivasi diriku untuk be the real muslimah, be the real moeslim… so I still to learn, always to learn, and never stop to learn… yups cukup baper pembahasan ini… I think so..;)